Orang Bodoh Yang Memindahkan Gunung

30 10 2008

[dimana ada kemauan, disitu ada jalan]

PADA zaman dahulu terdapat seorang kakek bernama Kuko. la tinggal bersama keluarganya di Cina, di Provinsi Sansei. Desanya berada di tengah GunungTaiko dan Gunung Ho-oku yang sangat besar.
Jika mereka ingin pergi ke luar dari desanya, maka mereka harus melalui gunung yang terjal ini. Meskipun terletak di daratan, desanya bagaikan pulau tersendiri. Oleh karena itu, seluruh orang yang tinggal di desa itu merasa tidak bebas hidupnya. “Saya ingin sekali membeli kain di kota untuk hadiah bagi ibu tapi waktunya tidak akan mencukupi karena harus melewati gunung Taiko,” kata seorang anak. Ada juga seorang laki-laki yang selalu melamun, “Kalau saja tidak ada gunung Ho-oku, pasti istriku bisa diselamatkan oleh tabib di desa sebelah. “Orang-orang yang hidup di desa itu merasa tidak gembira karena hidup mereka bagaikan katak dalam tempurung.

Suatu hari, Kuko yang berusia 90 tahun berkata, “Jika saya tiba-tiba meninggal, tidaklah aneh. Namun, pada ak¬hir hidup ini, aku ingin melakukan sesuatu yang berguna untuk anak cucuku. Aku bertekad untuk memotong dan memindahkan dua gunung ini supaya dapat membuat jalan. Jika gunung ini menjadi rata dan terdapat jalan, maka penduduk desa ini dapat pergi ke mana pun dengan bebas. Kita harus bersatu hati dan bergotong ro-yong mewujudkannya”.

Keluarga Kuko yang mendengarnya langsung cemas. Semua orang tak dapat mengeluarkan kata-kata saking terkejutnya, hingga akhirnya, istrinya berkata perlahan, “Kalau sampai kamu kelelahan dan terus sakit bagaimana?” Belum sempat Kuko menjawab, salah satu kerabatnya yang ikut hadir saat itu sudah berteriak keras, “Mana mungkin!”

Tiba-tiba anak laki-laki yang tertua mengatakan, “Saya dapat memahami keinginan Ayah. Saya berjanji untuk memotong dan merubuhkan gunung itu. “Anak laki-laki yang kedua menyambung, “Di bagian Selatan terdapat mata air, maka kita harus terus membuat jalan menuju mata air tersebut.” Anak laki-laki ketiga ikut bersemangat, dia segera berdiri, menggulungkan lengan bajunya dan berseru, “Kalau semua sudah setuju, kita bisa memulainya besok.”

Ibu mereka yang terus mendengarkan menjadi sangat khawatir, “Mana mungkin gunung ini dapat dirubuhkan, apalagi gunung tersebut sangat terjal. Lagi pula, tanah dan batu dari gunung tersebut mau dibuang ke mana?”

“Kami yang akan membawa dan membuangnya ke laut,” kata seorang cucunya sambil menggandeng tangan cucu lainnya.

Keesokan harinya mereka mulai mengerjakan proyek ini. Di pagi buta keluarga Kuko sudah ke luar rumah dengan semangat menuju gunung Taiko. Ada yang membawa pacul, ember, parit, tali, minuman, makanan, dan lainnya.
Kuko sendiri mulai memacul gunung tersebut. “Kamu memecahkan batu besar,” kata Kuko kepada anak tertuanya. “Kamu merubuhkan pohon-pohon,” kata Kuko kepada menantunya.

“Kami bertiga yang akan naik ke atas gunung dan mengikis gunung,” kata anak kedua, ketiga, dan keempat. Dalam sekejap, para cucunya mulai memindahkan batu dan tanah ke dalam ember. “Tralala trilili,” para cucunya bernyanyi sambil memikul tanah dan batu ke arah laut untuk membuangnya.

Melihat peristiwa ini, para perempuan di desa itu langsung berkata kepada anak mereka, “Lihatlah kelu-arga Kuko! Kalian juga harus menyumbang tenaga untuk bergotong royong.”
Laki-laki lain yang juga tinggal di desa itu pun ikut berkata, Wah kita malu kalau hanya berpangku tangan saja melihat mereka bekerja keras.”

Akhirnya, semua penduduk di desa tersebut, termasuk anak-anak bergotong royong untuk memindah-kan gunung tersebut. Mereka bekerja sambil tertawa tawa gembira karena memiliki keinginan yang sama. Makanan dan minuman juga mengalir tanpa henti. Hidup mereka menjadi lebih bersemangat dan bergairah karena memiliki tujuan dalam hidupnya.

Tanpa terasa, satu tahun telah berlalu, namun gunung itu tidak juga terlihat memendek. Jisyo, orang yang memiliki kedudukan tinggi di desa tetangga, mengatakan kepada Kuko, “Anda adalah orang yang sangat gigih dan tidak pernah putus asa. Tapi, untuk meratakan gunung yang sangat besar ini mungkin membutuhkan waktu hingga ratusan tahun. Sekarang telah berlalu satu tahun dan baru dapat membuat jalan sepanjang 100 meter. Pekerjaan ini siasia dan tidak mungkin berhasil.”

Sambil tertawa Kuko menjawab, “Jangan berpikir ini ‘baru’ mencapai 100 meter. Berpikirlah bahwa kita telah berhasil mencapai 100 meter. Sekalipun nanti saya meninggal, anak-anak saya masih hidup dan pasti akan meneruskan keinginan saya. Anak saya juga akan meneruskan keinginan ini hingga ke cucu dan buyutnya, sehingga gunung yang tinggi ini pasti dapat dirubuhkan.” Kuko terdiam sesaat. “ini adalah teori kewajaran,” ujarnya lebih lanjut sambil tersenyum.

Mendengar perkataan Kuko, Jisyo langsung terhenyak. Perkataan ini juga didengar oleh dewa gunung yang langsung melaporkannya kepada Dewa Indera. Dewa Indera sangat kagum dan memuji keinginan Kuko yang sangat gigih dan tindakan yang mereka lakukan. Oleh karena itu, Dewa Indera mengutus dua dewa untuk membantu Kuko.

Dalam satu malam, dua dewa tersebut memindahkan dua gunung, yakni Gunung Taiko di sebelah Utara dan Gunung Ho-oku di sebelah Selatan. Akhirnya, gunung itu sudah tidak ada lag!, dan terdapat jalan menuju mata air dan desa-desa lain. Keteguhan dan keyakinan perasaan Kuko, serta kegigihan pelaksanaan Kuko ini dapat menggetarkan Dewa sehingga memindahkan dua gunung yang besar tersebut. Hal yang semula tidak mungkin terjadi pun akhirnya menjadi kenyataan.

source: prajna pundarika


Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




%d bloggers like this: